SEMOGA BERMANFAAT

Selasa, 18 Oktober 2011

Memilih Antara Umar Dengan Utsman

 Umar bin Khaththab sangat tinggi sekali komitmennya dalam meneladani sunnah Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, dan mengikuti jejak sahabatnya Abu Bakar ra, sebagaimana ia juga amat serius serta menaruh perhatian yang besar untuk membawa umat diatas manhaj al-Qur'an.
Namun, ia tidak mampu melawan kekayaan dan kehidupan dunia. Sehingga pada zamannya, orang-orang Islam mengeluarkan harta pada hal yang patut dan hal yang tidak patut. Padahal, dunia menjadi salah satu pintu fitnah dan bencana.

Suatu hari Khalid bin Arfathah al Udzary datang kepada Umar. Umar bertanya kepadanya tentang orang-orang yang ada dibelakangnya. Ia menjawab :"Wahai Amirul Mukminin, orang-orang yang kutinggalkan itu memohon kepada Allah agar memanjangkan umur engkau.
Dan tidak ada seorang pun yang menginjakkan kakinya di bumi Qadisiah melainkan ia memperoleh pemberian sebanyak 2000 atau 1500 dirham, dan tidaklah setiap anak yang lahir melainkan dicatat dalam daftar pemberian sebanyak 120 jarib makanan setiap bulannya, baik anak laki-laki maupun perempuan.
Sedangkan laki-laki diberi dengan 500 sampai 600 dirham. Ini diluar ahli bait. Diantara mereka yang memakan (pemberian) makanan dan ada yang tidak, bagaimana mereka menurut engkau? Padahal, itu adalah pemberian infaq pada sesuatu yang layak dan yang tidak layak?".
Umar bin Khaththab menukasnya : "Allah adalah Dzat tempat untuk meminta tolong! Itu adalah hak mereka, maka harus dipenuhi. Saya lebih senang mereka diberi daripada dimintai (dibebani). Maka janganlah engkau memuji aku atas hal ini, karena bila itu menyangkut harta al-Khaththab, maka saya sungguh tidak akan memberikannya. Tetapi, saya tahu bahwa pada harta al-Khaththab ada kelebihan, maka tidak patut bagi saya untuk menahannya", jawab Umar.
Umar bin Khaththab ra telah membagi-bagikan sumber penghasilan negara tanpa menyimpannya sedikitpun di Baitul Mal, sekalipun ia melihat bahwa harta yang dibagikannya itu di luar kebutuhan kaum Muslimin. Padahal sudah pula dijelaskan padanya bahwa mereka telah menginfaqkannya kepada hal-hal yang layak dan yang tidak layak. Namun, Umar tetap melihat bahwa hal itu adalah hak orang-orang Islam dan ia takut menahannya dari mereka.
Umar bin Khaththab pernah berkata kepada Salman al-Farisi ra : "Apakah aku raja atau khalifah?". Salman menjawab: "Jika engkau memunguti uang satu dirham, lebih sedikit atau lebih banyak, dari tanah kaum Muslimin. Lalu engkau menggunakannya pada yang bukan haknya, berarti engkau seorang raja, dan bukan khalifah", tegas Salman. Mendengar jawaban Salman, meneteslah air mata Umar. Kendati demikian, Umar ra kerapkali menangis, karena takut kepada Allah, manakala harta di tangan orang-orang Islam bertambah.
Ketika datang harta ghanimah "jalula" yang harganya jutaan, ia memandangnya sambil meneteskan air mata. Abdurrahman bin 'Auf menegurnya : "Mengapa engkau menangis? Demi Allah, ini adalah anugerah yang patut disyukuri". Jawab Umar bin Khaththab, "Demi Allah, tidaklah satu kaum mendapatkan harta seperti ini, melainkan mereka akan saling mendengki dan bermusuhan, dan tidaklah mereka saling mendengki melainkan akan timbul peperangan diantara mereka", tegas Umar.
Umar tidak suka berpenampilan seperti raja dihadapan para pejabatnya. Saat ia datang ke Syam, seorang pegawainya Mu'awiyah bin Abu Sufyan menyambutnya dengan upacara besar. Ketika Mu'awiyah berhadapan dengannya, maka ia turun dan mengucapkan salam kepada Umar dengan menyebut "Khalifah", tetapi Khalifah Umar terus berjalan dan tidak menjawab salamnya.
Maka Abdurrahman bin Auf berkata :"Engkau telah menyusahkan seseorang,wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau tidak berbicara dengannya?"
Kemudian Umar memandang Mu'awiyah, seraya bertanya : "Engkaukah yang menyelenggarakan upacaya penyambutan seperti yang kulihat ini?".
"Ya", jawab Mu'awiyah.
"Ketika engkau mengunci rapat-rapat, sehingga orang-orang yang punya hajat sering berdiri di depan pintumu?", tambah Umar.
"Ya" jawab Mu'awiyah.
"Mengapa?", tanya Umar.
"Karena kita berada di negeri yang banyak terdapat mata-mata musuh", kata Mu'awiyah. "Jika kami tidak menyelenggarakan perayaan upacaya seperti ini, kami diremehkan dan mungkin juga diserang. Mengenai kehadiran aparat keamanan, kami takut terhadap perbuatan rakyat yang tidak punya rasa malu, sementara saya adalah pegawaimu. Kalau engkau meminta aku untuk mengurangi, maka aku akan mengurangi", ujar Mu'awiyah. Bila engkau mengharapkan aku untuk menambah, akan aku tambah. Dan kalau engkau menginginkan untuk menghentikannya, maka aku akan menghentikannya.
Mendengar penuturan Mu'awiyah itu, Khalifah Umar berkata : "Tidaklah engkau kutanya tentang sesuatu melainkan engkau melenceng darinya. Jika engkau benar, maka itu adalah pendapat orang yang cerdas. Sebaliknya, jika engkau berdusta, maka itu adalah taktik orang yang cerdik. Aku tidak menyuruh dan tidak melarangmu", ungkap Umar.
Dihari-hari terakhir menjadi khalifah telah diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab ra berkata, "Jika ada perkara (urusan pemerintahan) aku yang tidak sempat datang, pasti aku akan mengambil kelebihan dari harta orng-orang kaya untuk aku bagi-bagikan kepada orang-orang fakir".
Namun, di era Khalifah Utsman bin Affan, yang penuh dengan keberuntungan dan keberkahan, di mana Utsman menjalaninya seperti dua orang pendahulunya, yaitu Abu Bakar dan Umar, yang dalam suasana kelembutan. Sebagaimana dua pendahulunya, kekhalifahan Utsman sangat diridhai dan dicintai oleh kaum Muslimin.
Kesungguhan Utsman untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan umat, serta menjauhkan mereka dari benih-benih perpecahan dan perselisihan tidak lebih kecil dari kesungguhan Umar. Di masa Utsman sangat menonjol ketika ia menyatukan bacaan al-Qur'an ke dalam satu mush'af.
Ali bin Abi Thalib berpidato, "Wahai segenap manusia, takutlah kalian kepada Allah.Takutlah kalian kepada Allah. Janganlah kalian bertindak ekstrim kepada Utsman, dan hentikan ucapan kalian bahwa ia membakar banyak mush'af. Wallahi. Utsman tidak membakarnya melainkan didasari oleh hasil musyawarah dengan para shahabat", ucapnya.
Pada masa Khalifah Utsman kesejahteraan meningkat. Sementara daulah (negara) pun memberikan perhatian kepada urusan kaum Muslimin. Sehingga, kemewahan hidup banyak dibagi-bagi kepada mereka.
Imam Hasan Bashri bercerita : "Aku pernah menyaksikan Utsman berpidato, ketika itu usiaku menjelang dewasa. Tidak aku dapati seorang pun, baik laki-laki maupun perempuan, yang lebih tampan dan wajahnya cerah daripada Utsman. Aku mendengar ia berbicara sebagai berikut :"Wahai segenap manusia, berikanlah hartamu untuk mereka dengan cukup. Wahai saudara-saudara, berikanlah pakaian dan perhiasanmu kepada mereka. Mereka akan mendatangimu untuk menerimanya..".
Kemudian, "Wahai manusia, bawalah wewangian, ambar, dan sejenisnya, dan bagi-bagikanlah kepada mereka. Permusuhan - wallahi - harus disingkirkan, maka anugerah pemberian pun melimpah, kebaikan berlebih di dalam kehidupan. Tidak ada seorang pun Mukmin pun yang takut kepada Mukmin yang lain di muka bumi ini, siapapun dan dari negara manapun, Mukmin yang dijumpainya adalah saudara, tutur Hasan al-Bashri.
Lebih lanjut, Hasan al-Bashri, mengisahkan, "Harta melimpah, sampai seorang budak wanita benar-benar dijual dengan perak seberat timbangannya, dan kuda dijual dengan 10 ribu dinar, unta dengan1000 dinar, dan satu pohon kurma seharga 1000 dinar.
Di era Khalifah Umar dan Utsman, wilayah Islam mengalami perkembangan yang luar biasa. Islam berkembang meliputi berbagai suku, bangsa, bahasa, tradisi, adat, dan kebudayaan. Islam meluas begitu cepat. Umar ketika itu, bertindak tegas terhadap orang-orang Qurayis.
Diriwayatkan oleh Asy-Sya'bi, "Umar bin Khaththab ra tidak wafat kecuali setelah orang-orang Quraiys bosan kepadanya. Ia telah membatasi mereka di Madinah. Umar berkata, "Perkara yang paling kutakuti menimpa umat ini adalah tersebarnya mereka (kaum Quraiys) ke berbagai negeri", ucapnya.
Maka, pada masa akhir kekhalifahannya Umar berdoa : "Ya Allah, mereka telah bosan kepadaku dan akupun bosan kepada mereka. Aku telah jenuh kepada diriku sendiri, dan mereka telah jenuh kepadaku, maka ambillah aku menuju ke hadirat-Mu", ucap Umar.
Utsman tidak mempunyai watak keras seperti Umar, sehingga ia tidak membawa seseorang kepada apa yang dikehendakinya. Ia tidak melarang para pejabat dan pegawainya seperti apa yang dilkukan oleh Umar. Ia lemah lembut dan sangat toleran. Ia memprioritaskan kemudahan dan pemaaafan dalam setiap urusan.
Sejak periode Madinah, umat Islam tetap berada di dalam suasana jihad, hingga memasuki era Utsman bin Affan. Mereka sibuk berjihad di berbagai lapangan. Setelah suasana reda, maka kaum Muslimin hidup santai dalam kesejahteraan dan mengecap kemewahan, karena melimpahnya harta kekayaan. Inilah yang menimbulkan fitnah.
Umar bin Khaththab ra telah membuat susah dirinya, keluarga dan orang-orang sesudahnya. Ia telah menjadikan diri dan keluarganya lapar, agar masyarakat kenyang. Ia tidur diatas tanah, mengenakan pakaian lusuh, meminyaki unta dengan tangannya sendiri, menaikkan pelayan untanya di belakang dirinya. Umar ra pernah berkata,"Aku telah melihat susah diriku dan keluargaku. Jika aku selamat dari dunia dalam keadaan miskin papa dengan tanpa membawa dosa dan pahala, aku sungguh bahagia", keluhnya.
Suatu hari Umar disodorkan sejumlah harta, maka ketika putrinya Hafsah ra mengetahuinya, ia berkata : "Wahai Amirul Mukminin, pada harta itu ada hak kerabatmu! Bukankah Allah Ta'ala teah berwasiat kerabat dekat? Umar pun menukas :"Hak kerabatku? Sedang dihadapanku ada harta fa'i (pajak dan ghanimah) orang-orang Islam. Engkau memperdaya ayahmu dengan menyatakan kecintaanmu terhadap kerabatmu? Pergilah!", tegas Umar. Hafshah pun beranjak pergi.
Periode Utsman, orang yang penuh dengan kasih sayang, kemurahan, dan kedermawanannya terhadap keluarga dan kerabatnya.
Utsman menyiapkan tentara pada perang Tabuk dengan 950 ekor unta dan 50 ekor kuda, dan ia datang kepada Nabi dnegan 1000 dinar. Utsman membeli sumur Raumah dari seorang Yahudi dengan harga 35.000 dirham. Sementara itu, si Yahudi itu menjual airnya, lantas Utsman menjadikan sumur itu menjadi sedekah.
Di masa Abu Bakar ra, orang-orang tertimpa kekeringan yang membuat mereka nyaris binasa. Datanglah kafilah dari negeri Syam milik Utsman ra, yang terdiri 1000 ekor unta dengan membwa gandum, minyak dan kismis. Utsman tidak menjual barang-barang dagangannya kepada tengkulak. "Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku jadikan barang daganganku ini sebagai sedekah karena Allah untuk fakir miskin", cetusnya.
Setelah menjadi Khalifah tidak mungkin lagi menghentikan sikap dermawannya itu. Ia memberi seseorang dari hartanya. Manakala hartanya habis, iapun memberinya dari Baitul Mal. Ketika Utsman ditegur : "Dulu, Umar telah membuat sengsara diri dan keluarganya, karena mencari ridho Allah, dan aku sekarang memberi mereka juga mencari ridho Allah", tambahnya.
Di era Utsman, harta kekayaan melimpah ruah ditangan para sahabat. Sehingga mereka berada dalam ujian, seperti yang dituturkan oleh Abdurrahman bin Auf ra :"Dahulu kita diuji dengan kepahitan, dan kita bisa bersabar. Sekarang kita diuji dengan kesenangan, dan kita tidak mampu bersabar", ucap Abdurrahman. "Kita sungguh amat takut kalau kebaikan-kebaikan kita dimusnahkan dengan segera", keluhnya.
Melihat harta yang melimpah ruah, Abu Dzar memberontak, dan berupaya menghentikan gaya hidup yang kejam itu. Karena ia gagal, maka Abu Dza beruzlah - di sebuah tempat Rabdzah - sebuah tempat dekat kota Madinah, sampai ia meninggal. Wallahu'aam.
MOHON KOMENTARNYA!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

* Kata-kata sopan
* Bukan SARA